Rabu, 24 Februari 2016

Besengek Kuliner Khas Wonogiri


Besengek (bahasa Jawa: besèngèk) adalah makanan dari tempe kara dan dibumbui dengan parutan kelapa dan pewarna kunyit. Makanan tradisional ini biasa dijual di pasar tradisional di Kecamatan Manyaran, kab.Wonogiri dan disajikan dengan bungkus daun jati. Dahulu biasa digunakan sebagai lauk/sayur nasi tiwul (disebut sega tiwul lawuh besengek) ditambah sambal bawang. Saat ini biasa dikonsumsi langsung dengan lalapan cabe rawit. Harga makanan ini sangat terjangkau, perbungkus Rp 1.000,- s/d 2.000,-, tetapi harga ini akan menjadi 3 sampai 5 kali lipat menjelang Lebaran. Hal ini dikarenakan banyaknya pemudik asal kec. manyaran yang pulang ke kampung halaman dan ingin bernostalgia dengan makanan ini. Banyak yang rela antri untuk mendapatkan Besengek ini, jadi makanan ini sangat legendaris untuk lidah masyarakat Manyaran.

Lentho


Makanan yang dibuat dari olahan singkong dan kacang tholo ini sangat popular dimasa lalu, namun saat ini sudah sangat jarang dijumpai. Lentho, tepung singkong kering yang di campur dengan kacang tholo dan dibumbui ketumbar ini sangat khas. Rasa ketumbar dan kacang yang menyentuh lidah semakin membuat yang menikmati seakan dibawa ke masa lalu.

Pepes Hitam Cabuk Wijen


Wonogiri, sebuah kabupaten yang terletak di bagian tenggara Provinsi Jawa Tengah ini terkenal dengan udaranya yang panas dan kering. Suhunya yang panas membuat wilayah ini hanya bisa ditumbuhi beberapa tanaman kuat, misalnya singkong, pohon jati, wijen, jambu mede, dan lainnya.

Hasil panenannya pun memengaruhi kuliner khas di daerah tersebut. Singkong diolah menjadi nasi tiwul, jambu mede diambil bijinya menjadi kacang mede, daun pohon jati dimanfaatkan untuk menambah rasa khas dalam tempe bungkus. Sedangkan wijen diolah menjadi cabuk wijen.

Jika nasi tiwul, tempe bungkus daun jati, dan kacang mede masih tergolong mudah didapatkan, tidak demikian dengan cabuk wijen. 

Mungkin nama cabuk terdengar tak asing di telinga. Mungkin yang Anda dengar adalah cabuk rambak. Meski namanya mirip, namun kedua jenis cabuk ini tidak ‘bersaudara’. Namun, kesamaannya, kedua makanan ini menggunakan wijen dalam makanannya. Tak heran, cabuk merujuk pada arti wijen. 

Selain berasal dari kota asal yang berbeda, tampilan kedua cabuk ini memiliki yang sangat berbeda. Cabuk rambak berasal dari Surakata, Solo sedangkan cabuk wijen berasal Wonogiri.

Cabuk rambak merupakan sajian sejenis ketupat nasi yang diiris tipis dan disiram saus wijen berwarna cokelat yang dicampur kemiri dan kelapa parut. Sedangkan cabuk wijen sebenarnya lebih mirip pepes wijen.

Kuliner langka

Dulunya, cabuk wijen adalah makanan yang dinikmati di hampir setiap rumah tangga di kabupaten ini. Namun, seiring perkembangan zaman, kuliner ini makin terpinggirkan. 

Di Wonogiri, penjual makanan khas ini juga semakin sedikit. Makanan ini makin sulit ditemukan. Pasar kota Wonogiri adalah salah satu tempat untuk mencari makanan khas ini. 

Langkanya cabuk wijen disebabkan karena proses pembuatannya yang sedikit rumit. Tak cuma itu, tampilan makanan ini juga terlihat kurang menggugah selera karena warnanya yang hitam pekat. Warna hitam ini didapatkan dari campuran londo (daun pisang yang dibakar).

Cabuk wijen memiliki tampilan mirip seperti pepes namun ukurannya lebih kecil mirip otak-otak. Cabuk wijen ini dibuat dari biji mentah wijen yang disangrai (digoreng tanpa minyak). 

Setelah matang, wijen kemudian ditumbuk sampai halus dan dicampur air. Setelah dicampur air, adonan tepung wijen ini dikukus. Untuk menghasilkan rasa yang enak dan khas, adonan wijen ini dicampur dengan parutan kelapa, londo (daun pisang yang dibakar), cabai, bawang, gula jawa, dan petikan daun kemangi. 

Semua adonan yang sudah tercampur ini kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang. Cabuk kemudian dibakar.

Di Wonogiri sendiri, penduduknya masih banyak yang menggunakan tungku kayu bakar. Penggunaan kayu bakar akan membuat aroma cabuk makin sedap. 

Meski tampilannya kurang menarik karena warnanya yang hitam pekat, cabuk memiliki aroma yang sedap. Tak hanya aroma, cabuk wijen memiliki rasa yang pedas namun sedikit getir karena adanya campuran londo di dalamnya. Cabuk wijen ini dikenal juga sebagai sambal wijen. Pasalnya, ketika disantap, cabuk hanya diambil sedikit kemudian dicolek dan disantap bersama dengan makanan lainnya. 

Cabuk ini nikmat disantap bersama dengan nasi putih panas. Namun, ada juga orang yang lebih suka menyantapnya bersama dengan nasi tiwul.

sumber:
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20141202123402-262-15220/cabuk-wijen-si-pepes-hitam-dari-wonogiri/

Rumah Makan Sari Raras


Rumah makan yang terletak di Jalan Wonogiri - Pracimantoro KM 7 ini cocok bagi kamu  yang berkunjung ke obyek wisata Wonogiri seperti waduk gajah mungkur, karena disinilah tempat nongkrong yang paling bagus buat beristirahat maupun tempat acara rapat serta sebagai tempat pertemuan dan sekaligus menikmati hidangan ala waduk gajah mungkur. yup,  wader goreng adalah menu yang paling difavoritkan oleh para pengunjung. Tersedia juga berbagai oleh-oleh khas Wonogiri lainnya yang bisa dibawa pulang setelah menyantap sajian nikmatnya disini.

Menu : Wader goreng
Harga : mulai Rp 75.00
Alamat : Jalan Wonogiri - Pracimantoro KM 7
Telpon : 082 324951 888

sumber:
http://ceritaperut.com/

Ayam Panggang Mbok Tiyem


Tidak lengkap rasanya kalau tidak mencicipi ayam panggang di Wonogiri. Ayam yang dipanggang di tungku tanah dengan kayu bakar rasanya sangat nikmat. Aroma khas hasil panggangan kayu tidak ada tandingan rasanya. Dilengkapi dengan urap sayur bumbu kelapa dan sambal dadak, makan siang akan terasa nikmat. Apalagi ayam panggag ala Mbok Tiyem di kawasan Jatisrono, terfavorit!!

Menu: Ayam Panggang
Harga : mulai Rp 20.000
Alamat: Jatisrono
Telpon :

sumber:
http://ceritaperut.com/

Makanan Khas


Terkenal dengan Nasi Tiwul[6], beraneka jenis makanan khas tersedia di Wonogiri. Kacang Mede merupakan makanan yang berasal dari biji buah Jambu Mede (Jambu Mete) yang memang banyak terdapat di wilayah Wonogiri. Sedangkan Emping merupakan makanan yang berasal dari biji buah Melinjo. Biji buah dikupas, lalu ditumbuk sampai berbentuk lempengan kecil. Kedua jenis makanan ini disajikan setelah terlebih dahulu digoreng sampai kecoklatan. Cabuk adalah makanan sejenis sambal yang berasal dari biji Wijen yang dicampur dengan bumbu masak. Berbentuk pasta, warna hitam, terbungkus daun pisang.

Juga ada makanan dari singkong yang disebut "Pindang", ini berasal dari tepung singkong yang dimasak dengan daging kambing, yang terkenal di Kecamatan Ngadirojo. Saat pagi hari juga sering dapat dijumpai Kue Serabi di beberapa tempat di dekat Pasar Kota Wonogiri dan tempat lainnya di berbagai kecamatan di wilayah Wonogiri.

Makanan khas lain adalah Bakso dan Mie Ayam Wonogiri yang memiliki citarasa khas, oleh sebab itu di Jakarta banyak sekali Tukang Bakso atau Mie Ayam dari Wonogiri. Selain itu pada malam hari, banyak juga pedagang makanan lesehan yang tersebar sepanjang jalan-jalan di Wonogiri, dengan beraneka jenis makanan. Pusat jajanan khas Wonogiri ada di dekat kantor Kecamatan Selogiri, kurang lebih 5 km dari pusat Kota Wonogiri ke arah Kota Surakarta.

Sebagai tambahan tentang makanan khas yang disebut "Cabuk", akan lebih nikmat apabila disantap bersama-sama dengan "Gudangan" yaitu makanan yang berupa sayur-sayuran yang telah direbus dan dicampur dengan sambal dari cabai dan parutan kelapa

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Redaksi Wonogiri

Wonogiri adalah kabupaten di Jawa Tengah. Secara geografis Wonogiri berlokasi di bagian tenggara Provinsi Jawa Tengah. Bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo, bagian selatan langsung di bibir Pantai Selatan, bagian barat berbatasan dengan Gunung Kidul di Provinsi Yogyakarta, Bagian timur berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Pacitan. Ibu kotanya terletak di Kecamatan Wonogiri. Luas kabupaten ini 1.822,37 km² dengan populasi 1,5 juta jiwa